Back to Al-Qur’an, back to Asholah

quran okMuntadaQuran.com – Back to Al-Qur’an, back to Asholah…(Mengembalikan semangat interaksi dengan Al-Qur’an yang hampir hilang)

Dulu, tahun 1980-1990-an bisa dikatakan tahun-tahun di mana para aktifis dakwah begitu semangatnya. Semangat dalam dakwah, dalam tarbiyyah, dalam kuliah, dalam menuntut ilmu hingga semengat dalam berdemo untuk menumbangkan kezoliman di negeri ini. Indah sekali.

Tapi zaman terus berubah. Seiring berubahnya usia dan kondisi diri kita masing-masing.
Jika dulu itu, bqo merasakan minat dakwah, menuntut ilmu dan mepelajari al-Qur’an di kalangan aktifis demikian kuat dan berkobar-kobar, kini keadaan itu tinggal kesan. Tak tahu. Apa, ini bagian dari sunnatullah yang membuat terjadinya pergeseran nilai. Seakan itu semua terkubur dalam-dalam ditelan hiruk-pikuk dunia politik dan era siyasi. Wallahu a’lam.

Tapi itulah hikmah dalam hidup dan dakwah ini. Jangan sampai era demi era dakwah yang terus bergulir yang lalu dibalut dengan jaket politik itu menjadikan kita, kaum muslim, apalagi para aktifis dakwah, malah mengendur semangat belajar al-Qur’an-nya (mulai dari tilawah, tadabbur, tasmi, QL dan lain-lain). Jangan lagi terjadi itu. Sebab, nilai-nilai al-Qur’an yang dahulunya pernah membuat kita semangat dan atensi penuh kepada dakwah ini, nilai-nilai itulah yang seharusnya sekarang makin membuat kita ‘tahan’ oleh derasnya arus politik dan duniawi.

Dulu, sebagian besar kita ‘mungkin’ pernah hafal al-Qur’an sekian juz. Bahkan  tilawah harian bisa dikejar targetnya minimal 1 juz. Berjuz-juz. Hafalan, kalau tidak 30 juz, 15, juz, 10 juz, ya juz 30 juga masih harus disyukuri. Tapi ‘investasi’ akhirat itu hampir hilang dari benak kita.

Harus kita akui bersama memang, keterlenaan kita dengan dunia baru di panggung politik itu, tlah membuat kita kering ruhiyyah, kalau tidak ingin disebut, kehilangan ruhiyyah..

Dulu, kita begitu semangatnya mengumandangkan ‘al-Qur’an dusturuna‘ (al-Qur’an adalah pedoman hidup kami). Tapi sayang, gaung indah dan mulia itu mulai banyak berkurang dan hampir redup dari jiwa kita, seiring sibuknya aktivitas politik dan sosial kita…

Mungkin ini sedikit gambaran keprihatinan seorang bqo yang ‘bersedih’ dengan ditinggalkannya budaya Rasulullah dan generasi para salafus sholih terbaik itu.

Dulu, rasa semangat itu mewarnai majelis-majelis LQ, mabit, tasqif, dauroh dan program-program penting lainnya. Namun, kini mulai tergantikan dengan ‘agenda-agenda’ yang bernuasa politik. Bqo melihat, bukankah lebih bagus, kalau semua itu dikemas dengan sentuhan al-Qur’an yang kental dan mendominasi program-program siyasi (politik). Ini bukan berarti menggeser kepentingan dakwah di mimbar parlemen. Bukan. Tapi, sebaiknya al-Qur’an itu kita bawa dalam konteks dakwah politik kita.

Usai pemilu legislatif kemarin, bqo mendengar dari seorang teman ikhwah, bahwa guru senior al-Qur’an bqo (tidak perlu disebut namanya, mungkin sudah banyak yang kenal) memiliki kesempatan besar menjadi anggota dewan terpilih dapil DKI Jakarta. Masya Allah…

Meski panggung politik bukanlah ‘lingkungan’ kesehariannya, kita semua berharap mudah-mudahan beliau bisa mengemban amanah ini dan kiprahnya bisa mewarnai wajah parlemen yang sudah ‘kotor’ dengan berbagai peristiwanya..Dan juga, jiwa al-Qur’an yang melekat pada dirinya bisa ‘merobah’ wajah parlemen menjadi lebih baik..Mudah-mudahan. Doakan saja..

Dan kita tentunya, harus kembali kepada asholah dakwah (kemurnian dakwah ini), kembali kepada syi’ar kita, al-Qur’an dusturuna, sebagaimana yang pernah diraih oleh perintis dakwah ini, Rasulullah dan para sahabatnya. Sehingga mereka layak dijuluki jiilul qur’an al-fariid (generasi al-Qur’an yang unik dan tiada bandingannya).

Semoga tulisan singkat ini setidaknya mengingatkan kita semua tentang urgennya kembali ajaran-ajaran dan nilai-nilai al-Qur’an..Amiin..

(Hidayatullah Hamim Effendi)

You May Also Like