Hati Yang Bersih Tidak Akan Pernah Puas Dengan Al-Quran

qurannMuntadaQuran Sahabat mulia Rasulullah saw Utsman bin Affan ra pernah berkata:
“Apabila hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah puas dengan al-Qur’an.”
Sebagai seorang muslim, membaca Al-Qur’an adalah sebuah amalan utama dalam hidup ini. Dengan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, seorang muslim akan selalu konnek (terhubung) dengan Allah swt. Dalam hal dan aktivitas apapun itu. Karena hidupnya tidak akan pernah mulus dari berbagai persoalan yang melingkupinya, maka berinteraksi secara baik dan erat dengan Al-Qur’an seakan tidak terhindarkan lagi. Apabila hati sudah terhubung dengan kekuatan Allah, Insya Allah segala persoalan dan hambatan hidup akan mudah dan mendapat kemudahan dari-Nya.

Tapi, pada kenyataannya interaksi itu tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Ada saja kendala yang menghadang. Dan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus bangkit untuk mencarikan solusinya. Seorang muslim sejati, niscaya akan segera bangkit dari kebingungan. Dia akan ‘curhat’ dan mengadu kepada Tuhannya, bukan kepada selain-Nya. Ia sadar bahwa kembali kepada hakikat belajar al-Qur’an sebagai sarana berkomunikasi paling efektif adalah solusi yang terbaik.

Hati yang kotor VS Al-Qur’an yang suci
Dalam berinteraksi dengan nilai-nilai Al-Qur’an tentu saja tidak semua hati bisa terpaut dengan mudah. Ini disebabkan karena hati dan daya tarik kepada duniawi memiliki keterkaitan yang kuat. Hati seorang muslim akan mencari di mana selanya sehingga ia bisa benar-benar bisa dekat dengan Allah swt. Bisa jadi hatinya kotor karena noda maksiat yang sudah demikian berkarat. Akibatnya kesucian nilai-nilai Al-Qur’an tidak mau masuk ke dalam sanubarinya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa hati yang kotor dan kufur akan menjadi penghalang seseorang berinteraksi dengan nilai-nilai al-Qur’an.
Hanya hati yang bersih saja, kelembutan akan dengan mudah masuk ke dalamnya.

Al-Qur’an dan kepuasan batin
Apakah saat ini telah mendapatkan kenikmatan belajar dan bersama al-Qur’an, baik itu membaca, memahami, menghayati, menghafalkan dan mengamalkannya? Bila belum, waspadalah akan hati anda yang kotor. Jika hati anda sudah kotor maka sangat mustahil akan dapat memperoleh kesejukan isinya. Selagi hati masih kotor, maka kenikmatan belajar Al-Qur’an akan hilang. Akibatnya kepuasan batinpun tidak ada. Apalagi keindahan, kedamaian dan keajaiban lainnya bisa dirasakan. Sungguh, Allah hanya akan memilih mana di antara hati-hati hamba-Nya yang siap untuk menerima hidayah dari-Nya.

Oleh karena itu, dalam pandangan Allah swt, hamba-hamba yang siap, memiliki niat yang luhur dan mulia serta berusaha memperbaiki hatinya yang akan dapat merengkuh keindahan kelembutannya. Wallahu a’lam

(Hidayatullah Hamim)

You May Also Like